Sunday, 5 April 2020

Borjuis lokal

Kelas borjuasi Papua tidak bisa diandalkan sama sekali sebagai pemimpin atau bahkan sekutu dalam perjuangan pembebasan nasional Papua. Kepentingan kelas mereka mengikat mereka pada kolonial kapitalisme Indonesia. Borjuasi Papua (termasuk agamawan) mereka terikat oleh sistem kapitalisme indonesia. Mereka menyerahkan diri mereka menjadi boneka Jakarta. Dilihat dari perkembangan peradaban manusia Papua. Organisasi revolusioner dibutuhkan dan solidaritas internasional baik di Indonesia maupun lainnya! Kader yg progres, disiplin & tahan uji (mental) adalah hal utama. Keuangan dan agitator (program). Pelopor adalah ujung tombak dilengkapi dengan teori revolusioner. Tanpa teori, kedisplinan mustahil hak penentuan nasip sendiri digapai. Saat ini Referendum tdk bisa hanya berupa retorika (slogan) kosong. Che, de bilang "kesingmu menentukan isi dalamnya". Misalnya kamu posting status ttg realitas penindasan dan kesadaran atau pamer foto bermotif BK di Fb. Namun disisi lain kamu tdk ikut serta dalam program gerakan perjuangan. Kamu tidak disiplin. Kamu mandek dgn alasan kepribadian yg trll lama tdk jelas seakan kamu sendiri yg punya kesusahan ?. Kamu mesrah dengan sistem penjajah. Kamu lebih memilih hidup nyaman dgn libatkan diri pd kegiatan yg sebenarnya bagian dari hegemoni penjajah kapitalisme indonesia. Kamu malas tahu dengan kawan sesama aktifis (ompreng) yang sedang jatuh bangun jaga tunggu api revolusi. Kamu naif, kamu egois tdk pada porsi lawan. Ingat Papua merdeka itu hasil akhir dan bukan sebuah hadiah. Proses menuju ke sana butuh organisasi revolusioner, orang, teori revolusioner, keuangan & program agitator. Tp kalau hal utama kamu tdk penuhi atau salah satunya kurang mustahil referendum bagi rakyat bangsa Papua tidak bisa terjawab. Teori bukan sembarang teori. Hanya marxis yg bisa membawa kt pada puncak referendum. Jangan pernah menggantung harapan pada sistem biadap kapitalisme Indonesia. Jangan pernah mau menaruh harapan pada Kelas borjuasi Papua. Mereka tidak bisa diandalkan sama sekali sebagai pemimpin atau bahkan sekutu dalam perjuangan pembebasan nasional Papua. Kepentingan kelas (perut) mereka mengikat mereka pada sistem penjajah kapitalisme Indonesia! Silakan tanbahkan . . . #Panjang umur perlawanan #Solidaritas tanpa batas #Viva_KNPB_TPNPB #Hidup Rakyat Papua yang melawan!!!

KOSMOLOGI PAPUA MERDEKA

●☆ Oleh: Sekjen satu KNPB Alamsuh ☆● ●☆ Tuan: John Denver II ☆● _____________________________________________ ■ KOSMOLOGI PAPUA MERDEKA ■ _____________________________________________
Di relung - relung hati orang Papua terdalam, selalu ada pengharapan datangnya “ Zaman Bahagia ”, sebuah masa berakhirnya penderitaan dan nyanyian pagi kemerdekaan dilantunkan . Jika kita menyelami dunia berpikir orang Papua, kerinduan akan datangnya masa “Pembebasan” suatu saat nanti tak akan pernah luntur sedikitpun . Alm. Muridan S. Widjojo dengan sangat baik pernah menuliskan : " Sekitar 1970-an lalu, di Desa Keikwa, pantai selatan Papua, seorang paitua Kamoro sedang duduk memandang laut lepas. Ia ditanya pastor tua Frankenmollen, apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang keberadaan Belanda, Jepang, dan kini Indonesia. Dengan enggan paitua itu menjawab ; “ Bapa, dulu Belanda datang, lalu datang Jepang, dan sekarang Indonesia. Kitorang sekarang ada tunggu siapa lagi yang akan datang ". Orang Papua selalu merindukan kedatangan leluhur, nenek moyang mereka, yang akan kembali ke kampung untuk menyelamatkan kehidupan mereka dari kesulitan. Mereka akan menjadi makmur. Widjojo (2000) melanjutkan bahwa rakyat Papua tidak pernah lelah menagih janji pada nenek moyangnya. Berbagai kekecewaan dan kegagalan gerakan mistis kargoisme di masa lalu tidak pernah memutus asa untuk meniti penantian baru. Penantian itu kini mendapatkan bentuknya dalam perjuangan “Papua Merdeka”. “Merdeka” bagi rakyat Papua di pedalaman adalah kegairahan penantian sekaligus harapan baru. Akar gerakan-gerakan keselamatan, kultus kargo (cargo cult), dan pandangan messianistic pengharapan munculnya kebahagiaan dan kebebasan memiliki sejarah panjang di Papua. Gerakan messianistic ini lahir hampir bersamaan dengan masuknya injil dan nilai - nilai kekristenan yang masuk ke Papua tahun 1855 melalui zendeling. Ottow dan Geisler. F.C Kamma, seorang zendeling yang bertugas di Papua, pernah mencatat bahwa gerakan cargo cult khususnya terjadi di Biak terjadi sekitar tahun 1855 dengan mitos Manarmakeri/Mansren Manggundi. Manarmakeri adalah mitologi tentang lelaki bujang yang kudis namun membawa berita koreri, rahasia kebahagiaan, kebebasan, dan hidup kekal saat sampari (bintang pagi) muncul. Alam berpikir orang Papua selalu menyiratkan hal ini. Transformasi selalu terjadi dan menemukan konteks zamannya. Radongkir (2001: 283) menafsirkan dengan baik sekali bahwa telah terjadi transformasi dalam alam berpikir “zaman pembebasan” ini. Ia menuliskan telah munculnya nilai-nilai baru yang diadopasi ke dalam gerakan Koreri, salah satunya dengan memperjuangkan kemerdekaan politik Papua. Spiritnya tetap sama (keyakinan datangnya masa pembebasan) tapi selalu menemukan konteks zamannya. Kini zamannya adalah kemerdekaan Papua. Jika kita mencoba memahami spirit “ideologi pembebasan” kultus kargo ini, kelangsungannya semakin dikuatkan dengan pengalaman kekerasan dan penderitaan yang tiada tara. Kisah kekerasan dan penderitaan itulah yang semakin mendorong transformasi kultus kargo menjadi perjuangan kemerdekaan Bangsa Papua. Semakin rakyat Papua disakiti, imajinasi pembangunan sungguh jauh dari bayangan mereka. Jika menelisik lebih jauh, orang Papua memahami sejarah kebudayaan manusia itu seperti episoda atau babakan-babakan tertentu yang terus-menerus berganti. Kejadian dan aktor dari babakan yang satu diganti dengan aktor dari babakan lain, yang kadang-kadang tidak berhubungan satu dengan lainnya. Giay (2000: 9-10) dengan tajam mengungkapkan : " dengan mengikuti alur berpikir filsafat episoda atau babakan ini, orang Papua mengatakan bahwa sejarah Papua itu mengikuti episode berikut : ada episode dimana orang Papua berkuasa di atas tanahnya sendiri, lalu diganti dengan babakan berikut dengan kedatangan utusan injil Barat. Babakan ini disusul lagi dengan babakan kedatangan orang Belanda, lalu diganti lagi dengan masa pendudukan Jepang dan terakhir kedatangan Indonesia. Episoda berikut setelah Indonesia adalah : Papua merdeka dan babakan terakhir adalah kedatangan Kristus (episode yang ditafsirkan dari sudut pandangan Kristen). Berangkat dari pemahaman demikian, orang Papua berpandangan bahwa menjadi bagian dari Republik Indonesia itu hanyalah transit sementara, bukan terminal akhir. Negara Indonesia sangat takut Papua akan merdeka menjadi sebuah negara sendiri. Jika kita tanpa pamrih “membebaskan” orang Papua , kenapa mesti takut? Kita sebenarnya bisa dengan hati terbuka dan penuh kasih membukakan jalan bagi orang Papua menuju pembebasan sejatinya. Saat “ mengintegrasikan” (menganeksasi?) Papua ke dalam negara ini, sudah pasti di Bumi Cenderawasih itu bukan tanah kosong. Di tanah yang kaya itu, terdapat pemilik sah tanah leluhur mereka, yaitu orang Papua sendiri dengan beragam komunitas etnik, bahasa, dan budayanya. Jika kita beritikad “memerdekakan” orang Papua dari penjajahan, semestinya baku tipu(saling menipu) peristiwa Pepera 1969 tidak terjadi. Kita akan dengan bermartabat membebaskan rakyat Papua untuk berjuang menjadi merdeka dalam menentukan keputusannya, seperti juga kita yang berjuang merebut kemerdekaan dari Belanda. Namun watak bekas negari jajahan yang ingin mencoba latihan menjajah wilayah lain tak terhindarkan. Dari bekas terjajah, kini menjadi penjajah (baru). Sayang hal itu tidak negara ini lakukan saat ini. Nasi telah menjadi bubur. Kita harus mengakui bahwa kita pamrih. Banyak dari kita yang serakah dan berkepentingan dalam mengeruk kekayaan di tanah Papua. Keculasan kita berawal dari sini. Selain pamrih ekonomi tersebut, dari lubuk hati kita terdalam, kita belum menganggap orang Papua itu sederajat dengan kita dalam kehidupan bernegara. Kita seolah menyerap perlakuan kolonialistik penjajah untuk kita praktikkan terhadap Papua. Catatan rasisme dan diskriminasi yang dialami oleh anak-anak muda Papua, pembungkaman disertai kekerasan yang menyuarakan aspirasinya, adalah beberapa contoh saja. Tragedi demi tragedi diskriminasi dan kekerasan yang terjadi pada orang Papua tentu saja akan menambah luka. Luka yang menjadi tak mungkin tersembuhkan. Luka tersebut justru akan menjadi borok. Di tengah penderitaan yang tanpa henti dalam pendudukan negara ini, rakyat Papua akan selalu merindukan datangnya “zaman pembebasan”. Melanjutkan kekerasan berarti meneguhkan tekad rakyat Papua untuk terus dan terus memanjatkan doa kemerdekaan. _____________________________________________

Thursday, 2 April 2020

PAPUA DISERANG C3 CORONA COLONIAL CAPITALIS

West Papua Diserang Virus C3
Adalah Corona, Colonial, dan Capitalist (C3). Sifat aslinya sama, yakni menular, menyerang, dan mematikan. Corona menular melalui sosial. Colonial melalui Politik. Capitalist melalui ekonomi. Corona menyerang dan mematikan tubuh. Sementara, Colonial dan Capitalis menyerang dan mematikan kesadaran jiwa raga dari bangsa yang dijajah dan ditindas. Ketiganya punya hubungan sebab akibat (hubunga kausalitas) dalam kenyataan sejarah dan masa depan penghuni planet bumi. Terlepas dari asumsi ilmuan tentang evolusi alam dan atau teori konspirasi, virus corona menyerang umat manusia, siapa dan apapun kelasnya. Merubah tatanan kepentingan sosial, ekonomi dan politik global. Perang dagang Capitalist global terganggu. Negara-negara di dunia menghadapi 2 pilihan: Nyawa manusia atau ketahanan ekonomi. Para pemimpin negara capitalist dan colonial Indonesia yang anti kemanusiaan menghadapi Corona dengan mindset profitabilitas capital. RI jual habis masker 75 juta USD keluar (ekspor) disaat rakyatnya butuh; Jokowi minta sektor pariwisata ditingkatkan saat rakyat antisipasi penyebaran Corona. Semua sektor non-esensial dibuka. Freeport dibiarkan terus beroperasi. TNI/Polri terus menerus didrop untuk jaga Freeport. Disaat karyawan Freeport harus hindari penyebaran Virus Corona dan dari ultimatum perang tutup Freeport yang dikeluarkan TPNPB. Akibatnya karyawan tertembak. Angka Positif Corona di Timika bertamba akibat akses pesawat penumpang asing Freeport, Airfast yang masih beroperasi. Lalu dengan larangan lockdown Papua menunjukkan kepada rakyat West Papua dan Indonesia bahwa penguasa Jakarta benar-benar terserang virus akut colonial dan capitalist dalam menghadapi virus corona. Tapi tak akan merubah fakta bahwa ekonomi kapitalis sedang hancur. Karena produksi, perdagangan dan investasi tetap terganggu dan menyebabkan daya beli dan pendapatan menurun. Rakyat pekerja kehilangan kerja. Terancam virus corona, tanpa jaminan dari negara dan perusahaan. Sementara, mereka borjuasi colonial-capitalis yang punya kekuasaan dan kekayaan menimbun pendapatan, mendapatkan akses kesehatan baik, menyelamatkan diri untuk bisa menghindar dari virus corona. Lalu buruh sektor esensial dipaksa kerja produksi kebutuhan primer dengan resiko terjangkit corona. Capitalist dan colonial itu memang prioritaskan keuntungan (profit oriented). Negara dan perangkat infrastrukturnya harus diselamatkan. Bahkan sebagian besar rakyat miskin dan tidak produktif harus dikorbankan demi eksistensi negara. Apalagi rakyat terjajah West Papua yang memang sudah beda nasionalisme diperlakukan dengan paradikma rasis sejak anekasi. Karena itu sejak awal, prioritas colonial dan capitalis di Papua adalah infrastruktur bagi eksploitasi dan pasar modal. Sementara kesehatan? 60 tahun Indonesia di West Papua, hanya 7 dokter Paru se-Papua dan hanya 60-an ventilator untuk hadapi Virus Corona. Artinya, sebelum Virus Corona pun orang Papua sudah mati banyak karena sakit. Karena orientasi membangun manusia Papua tidak ada sama sekali. Bagaimana West Papua Melawan C3 Pertama, rakyat pejuang (yang sedang berjuang) mesti memahami rantai penindasan –penjajahan. Itu seperti cara kita memahami sifat virus dan cara ia menyerang dan mematikan, lalu bagaimana kita mencegah, melawan dan membebaskan diri dari virus tersebut. Lalu baku kastau sesama untuk berjuang melawan bersama. Kedua, temukan vaksin virus C3. Bahwa vaksin virus corona sedang menjadi proyek ilmuan negara-negara, yang kelak jadi komoditi kapitalis. Maka kembali hidupkan ketahanan pangan dan mengkonsumsi makanan dan ramuan tradisional, seperti samiroto dan papaya rebus (pengganti klorokuin) yang terbukti bisa menghilangkan Virus Corona. Colonial dan Capitalis juga bisa kita lawan ketika ketahanan tubuh dan pangan (ekonomi) tercukupi. Ketiga, menghilangkan virus kesadaran palsu yang ditanamkan colonial dan capitalis dalam otak kita. Karena terbukti bahwa segala program (propaganda) pembangunan colonial dan capitalis di West Papua saat ini tidak berhasil memberi jaminan selamat saat menghadapi ancaman virus corona. Colonial dan Capitalis hanya pikir ekonomi negara dan keselamatannya dari pada rakyat miskin, rakyat pekerja, apalagi rakyat West Papua. Keempat, sadari bahwa jalan satu-satunya adalah lepas bebas dari kuasa colonialisme, dan capitalism global yang mencengkram kita, bangsa Papua. Seperti Timor Leste, Singapura, PNG, Vanuatu, dll., adalah contoh baik dari negara yang bisa proteksi dini rakyatnya dari Virus Corona. Colonialisme adalah sumber masalah yang harus diputuskan untuk bisa selamatkan bangsa dari segala ancaman kedepan. Kelima, hindari segala bentuk perpecahan dengan terminologi suku, agama, kelompok, gunung pante, faksi perjuangan. Hindari kebiasaan tidak bermoral. Hindari tawaran/suap dari colonial dan capitalis agar menjadi agen/intel/informan/atau barisan bela negara colonial yang bertujuan menyerang rakyat dan bangsamu sendiri, bangsa Papua. Keenam, terus membangun solidaritas rakyat tertindas di dunia. Sebab, virus C3 harus dihancurkan oleh kemenangan sosialisme rakyat pekerja/pejuang di seluruh dunia. Agar tercipta dunia tanpa kelas, setara, adil dan demokratis, hancurkan dosa ekologis, dengan menempatkan manusia dan bumi sebagai prioritas pembebasan. Ketujuh, mulai latih diri dan bangsamu dengan sikap-sikap sosialis: Kritis, demokratis, militant, progresif, saling mengasihi/membantu, bersolidaritas, cinta tanah, air, hutan, dan segala ekosistemnya, etos kerja, ilmiah, objektik/kontekstual, kesetaraan gender, anti diskriminasi rasial, menghargai kebebasan beragama/keyakinan, dan kerja sama. West Papua adalah contoh nyata dari praktek busuknya capitalism dan colonialism di abad 21. Karenanya, memutus cengkraman gurita imperialis yang dijamin oleh colonialisme Indonesia di West Papua adalah tugas rakyat tertindas di dunia yang mendambakan sosialisme sebagai alternative/jawaban atas capitalism yang gagal. Rakyat Papua, kita pasti bisa kalahkan Virus C3. Rakyat Pejuang, Pejuang Rakyat Victor Yeimo